HALSEL, Jhazirahtimur.com — Pembangunan bukan sekadar soal angka pertumbuhan, melainkan memastikan manfaatnya menjangkau setiap sudut negeri. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan hal ini di tengah pencapaian pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Konektivitas antarwilayah menjadi kunci utama, terutama bagi warga yang hidup dari bertani dan melaut — jalan serta jembatan yang layak adalah jembatan menuju kesejahteraan yang sesungguhnya.
“Pembangunan kita belum sepenuhnya menyentuh semua lapisan masyarakat. Banyak wilayah yang belum terhubung fasilitas layak, dan itulah yang menjadi kendala pemerataan,” ujar Sherly.
Menjawab tantangan itu, Harita Nickel hadir bersama warga Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, membangun empat jembatan penghubung yang kini resmi berdiri: Jembatan Gantung Dodoku Horikiwo di Desa Bobo, serta Jembatan Rijang, Jembatan Dial, dan Jembatan Merah Putih Sungai Doko di Desa Gambaru. Keempatnya diresmikan secara simbolis melalui penandatanganan prasasti di Kantor Gubernur, Sofifi, Rabu lalu.

Peresmian ini dihadiri langsung Gubernur Sherly Tjoanda, Wakil Gubernur Sarbin Sehe, Danrem 152/Babullah Brigjen TNI Enoh Solehudin, serta jajaran pimpinan Harita Nickel.
“Harita Nickel adalah mitra strategis daerah. Terima kasih telah membuka lapangan kerja dan ikut membangun bersama kami. Hari ini kita menandai satu langkah nyata — empat jembatan yang akan mengubah kehidupan warga Pulau Obi,” kata Sherly.
Komitmen ini lahir dari kesepahaman bersama: pemerataan akses adalah tanggung jawab bersama. Harita Nickel mewujudkannya melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang konsisten berjalan sejak perusahaan beroperasi di Pulau Obi.
Direktur Utama Harita Nickel, Roy Arman Arfandy, menyampaikan bahwa Maluku Utara adalah rumah tempat perusahaan tumbuh bersama masyarakat.
“Keberhasilan kami bukan diukur dari angka semata, melainkan sejauh mana kami dapat mendekatkan pelayanan, membuka kesempatan, dan meningkatkan kualitas hidup warga. Inilah pusat dari setiap langkah yang kami ambil,” tegas Roy.
Jalan Menuju Harapan yang Lebih Dekat
Kehadiran jembatan kini terasa nyata bagi warga Desa Gambaru. Jembatan Merah Putih sepanjang 25 meter dan lebar 4 meter yang melintasi Sungai Doko menjadi akses utama menuju ladang maupun kawasan perusahaan.
Kepala Desa Gambaru, Nasrudin M. Kasuba, menyebut jembatan ini buah kolaborasi nyata antara pemerintah desa dan Harita Nickel.
“Dulu kami harus berputar jauh, kini jalannya layak dan aman. Hasil kebun bisa dibawa ke pasar lebih cepat, kebutuhan harian lebih mudah didapat. Ini bukan sekadar bangunan, melainkan napas baru bagi ekonomi desa,” ucap Nasrudin.
Nursia Drakel, warga setempat, merasakan perubahan itu sendiri. “Dulu menuju kebun berat dan berisiko. Sekarang kami naik motor, membawa hasil bumi sekaligus berjualan makanan ke area perusahaan. Waktu lebih singkat, penghasilan lebih pasti,” ceritanya dengan senang.
Siti Hawa Cawali menambahkan hal serupa. Tiga jembatan lainnya di Rijang, Dial, dan Doko kini memungkinkan warga mengendarai sepeda motor hingga kendaraan roda tiga ke ladang dan tempat aktivitas harian. Jalur yang dulu tertutup lumpur dan terputus sungai, kini menjadi jalan yang aman bagi siapa saja — petani, pekerja, maupun anak-anak yang pulang sekolah.
Empat jembatan di Pulau Obi ini bukan sekadar menghubungkan desa ke desa. Ia menghubungkan warga dengan harapan yang lebih dekat, masa depan yang lebih terjangkau, dan kemajuan yang benar-benar dirasakan sendiri.

