TERNATE, Jhazirah.com — Di tengah laju pertumbuhan penduduk dan gemuruh aktivitas ekonomi yang kian memadat, dua kekuatan kini bersatu menjawab persoalan gunungan sampah di Maluku Utara: kembali ke kearifan leluhur, dan memperkuat kerja sama nyata antar pihak.
Lonjakan volume sampah menjadi bayang-bayang yang tak bisa diabaikan. Di Ternate, kota dengan kepadatan tertinggi di wilayah ini, keterbatasan sarana kerap menjadi penghalang pelayanan kebersihan yang optimal. Padahal, jauh sebelum istilah pengelolaan lingkungan dikenal secara modern, masyarakat Ternate sudah memiliki warisan mulia: Sigofi Gam.
Dalam bahasa Ternate, Sigofi berarti bersih-bersih, Gam berarti kampung. Secara sederhana, gotong royong membersihkan kampung — namun dulunya bukan sekadar kerja bakti biasa. Tradisi ini adalah bagian dari sistem menjaga kelestarian alam yang diwariskan Kesultanan Ternate, sarat makna sakral dan tanggung jawab bersama. Kini perlahan memudar di ruang publik, namun tetap hidup di Kedaton Kesultanan Ternate, diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh adat maupun agama.
Menyadari hal itu, Pemerintah Kota Ternate mulai merintis pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga di lima kelurahan sejak April 2026. Agar langkah ini tidak terhenti di tengah jalan, dukungan sarana mutlak diperlukan.
Menjawab kebutuhan tersebut, Pemkot Ternate menjalin sinergi dengan Harita Nickel. Melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), perusahaan menyerahkan bantuan satu unit truk pengangkut sampah yang direncanakan beroperasi November mendatang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate, Musli Mohamad, menyambut baik langkah ini. “Bantuan ini bukan sekadar tambahan kendaraan, melainkan kerja sama strategis. Persoalan sampah butuh sarana memadai. Dengan tambahan armada, pelayanan pengangkutan dapat ditingkatkan, terutama di wilayah yang selama ini belum terjangkau secara optimal,” ujarnya. DLH kini juga menyusun ulang rute dan jadwal penjemputan guna mempercepat penanganan sampah di TPS.
Sinergi serupa juga terjalin di Halmahera Selatan. Harita Nickel menyerahkan bantuan armada yang kini sedang diproses kelengkapannya agar segera beroperasi. Kepala DLH Halsel, Samsu Abubakar, menegaskan dukungan ini sangat membantu pelayanan kebersihan, khususnya di kawasan padat penduduk seperti Labuha. “Menjaga kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut,” harapnya.
Baik di Ternate maupun Halsel, para pemangku kepentingan sepakat: sarana dan prasarana yang memadai adalah langkah awal, namun kesadaran masyarakatlah yang menjadi kunci utama. Jika infrastruktur sudah terpenuhi, partisipasi warga adalah penentu keberhasilan jangka panjang.
Pulau Obi: Aturan Desa Melindungi Lingkungan
Di Desa Kawasi, Pulau Obi, pendekatan dilakukan secara lebih kokoh. Bertepatan dengan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pemerintah Desa Kawasi menandatangani rancangan Peraturan Desa tentang Pengelolaan Sampah Terpadu — memperkuat fondasi program Kawasi Berseri (Bersih, Sehat, Mandiri) yang telah berjalan sejak 2023 berkolaborasi dengan Harita Nickel.
Pertumbuhan penduduk yang pesat seiring hadirnya industri menjadi tantangan sekaligus alasan lahirnya aturan ini. Pengelolaan sampah tidak boleh dibiarkan sekadar kegiatan sesaat, melainkan menjadi sistem yang dijalankan bersama antara masyarakat, Pemdes, dan BUMDes. Armada pengangkut sampah yang dikerahkan perusahaan kini melayani kawasan permukiman baru maupun lama, menuju Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu yang telah disiapkan.
Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Pemdes Kawasi, Bambang Bakir, menyatakan Perdes ini disusun untuk menjawab tantangan yang terus tumbuh. Sementara Community Development Manager Harita Nickel, Broto Suwarso, menekankan: “Penandatanganan rancangan Perdes ini adalah langkah penting agar pengelolaan sampah dapat berjalan mandiri dan berkelanjutan. Kolaborasi semua pihak menjadi modal utama mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga.”
Dari Sigofi Gam di Ternate hingga Perdes di Kawasi — satu hal yang sama: kebersihan bukan urusan satu pihak saja. Ia adalah warisan, kewajiban, dan masa depan yang dijaga bersama.

