Damai Itu Indah, Namun Jauh Lebih Mahal Harganya: Malifut Bersatu dalam Deklarasi Perdamaian yang Mengharukan

Penandatanganan petisi damai diatas kain putih sepanjang lima meter sebagai simbol kesucian dan kebersamaan seluruh elemen. (Dok/ist)

Malifut, jhazirahtimur.com-Langit Malifut tampak lebih teduh hari ini. Ribuan hati bersatu dalam satu irama cinta dan persaudaraan saat Forum Pimpinan Kecamatan Malifut menggelar aksi damai yang luar biasa. Bukan sekadar unjuk rasa, ini adalah janji suci untuk menolak perpecahan dan memeluk erat keharmonisan yang mulai rapuh.

Di hadapan para pemimpin, tokoh masyarakat, dan seluruh warga, Camat Malifut, Sehan Jaid Rahman, mengucapkan kalimat yang menusuk kalbu:

“Damai itu tidak hanya indah, melainkan mahal harganya.”

Sebuah kalimat sederhana namun bermakna dalam. Ia mengingatkan semua hadirin bahwa kedamaian bukanlah barang yang bisa dibeli, melainkan anugerah yang harus dijaga dengan air mata, kesabaran, dan rasa saling menghormati. Tanpa damai, tidak ada kebahagiaan; tanpa persatuan, tidak ada masa depan. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk menjadi penjaga kedamaian itu agar tak mudah hilang diterpa badai perbedaan.

Doa yang Memeluk: Pendeta Berdoa di Masjid, Imam Memimpin di Gereja

Momen paling mengharukan terjadi saat doa bersama dipanjatkan. Di depan Masjid Desa Soma, suara lembut seorang Ibu Pendeta terdengar lirih memohon rahmat bagi sesama. Sebaliknya, di depan Gereja Desa Wangeotak, Imam Masjid Raya berdiri tegak memimpin doa untuk kedamaian.

Di situlah letak kemuliaan Malifut. Perbedaan bukan lagi tembok pemisah, melainkan jembatan yang menguatkan. Simbol bahwa iman mengajarkan cinta, bukan benci.

Suasana semakin haru saat orasi perdamaian disampaikan oleh Kades Sabale, M. Taher Mesir, dan perwakilan Tokoh Adat Pagu. Semua suara bersatu dalam satu nada: Kami adalah saudara.

Puncak acara yang tak terlupakan adalah penandatanganan Petisi Damai di atas kain putih sepanjang 5 meter simbol kesucian niat yang ditandatangani oleh seluruh elemen.

Deklarasi Damai yang mengharukan di Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. (Dok/Ist)

Konvoi perdamaian pun digelar, dipimpin langsung Kades Tahane, sebagai tanda bahwa semangat persatuan telah bergerak menyatu dalam darah masyarakat.

DEKLARASI DAMAI: Janji Sehidup Semati untuk Malifut

Atas nama seluruh umat lintas agama, etnis, dan pemuda, Malifut menyampaikan ikrar suci yang menyayat hati:

1. Menjaga Keutuhan sebagai Darah Daging Bangsa

Kami berjanji menjaga keutuhan wilayah dari pusat hingga ke pelosok desa, karena Malifut adalah rumah kita bersama.

2. Keberagaman adalah Harta yang Tak Ternilai

perbedaan adalah anugerah, kekuatan, dan warisan terindah yang wajib kita rawat, jaga, dan wariskan kepada anak cucu dengan tulus ikhlas.

3. Belajar dari Luka agar Tak Terulang Kami menyadari, kejadian memilukan yang pernah terjadi seperti kerusakan rumah ibadah dan gangguan ketertiban adalah pelajaran pahit. Kami bertekad membangun komunikasi yang tulus dan terbuka agar kesalahpahaman tak lagi menjadi sumber air mata.

4. Membangun Solidaritas yang Tulus
Kami akan terus menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, peka terhadap penderitaan, kemiskinan, dan ketidakadilan, karena sakit satu orang, sakitlah kita semua.

5. Mempererat Tali Persaudaraan
Kami akan memperbanyak pertemuan dan dialog. Biarkan perbedaan budaya dan agama menjadi bunga-bunga indah yang mewarnai kehidupan, menuju Halmahera Utara yang aman, nyaman, dan bebas dari provokasi.

6. Menggunakan Media untuk Kebajikan
Kami sepakat menjadikan media sosial sebagai ladang kebaikan, sarana membangun sumber daya manusia, bukan tempat menyebar racun dan kebencian.

Malifut telah berbicara. Damai telah terpilih. Semoga ikrar ini menjadi cahaya abadi yang menerangi jalan kehidupan kita. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *