Jhazirahtimur.com – Warga Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, bukan hanya terabaikan, mereka telah dipaksa menelan derita selama puluhan tahun karena akses jalan tani yang tak layak, sementara janji-janji kosong dari pemimpin dan wakil rakyat hanya menambah luka.
Selama lebih dari dua dekade, ribuan petani di wilayah ini berjuang hanya untuk bisa mengantarkan hasil bumi mereka ke pasar. Bukan untuk kemewahan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Namun, harapan yang mereka pegang erat hanya berubah menjadi deretan janji yang tak pernah terealisasi, janji yang diucapkan dengan senyum manis saat kampanye, baik untuk Pemilihan Kepala Daerah maupun Pemilihan Wakil Rakyat, tapi tak pernah diikuti dengan tindakan nyata.
Yang lebih menyakitkan, delapan anggota DPRD Dapil 3 Kao-Malifut dari berbagai fraksi politik (Golkar, PDIP, Nasdem, Gerindra, PAN, dan Demokrat) seakan-akan “bungkam total” di tengah derita rakyat yang mereka seharusnya wakili. Mereka tidak bersuara, tidak bergerak, dan seolah-olah lupa bahwa suara rakyat adalah mandat yang harus mereka perjuangkan.
Hamsya, seorang petani setempat, dengan suara gemetar dan mata yang penuh amarah, mengatakan kepada media ini: “Kami sudah tak tahu lagi harus berteriak ke mana. Setiap tahun kami sampaikan di musrembang, setiap acara pikda kami datangi, tapi hanya mendapatkan senyuman dan janji yang sama. Hanya saat musim pemilihan tiba, mereka datang dengan mobil mewah dan menjanjikan jalan yang layak. Tapi setelah terpilih, mereka hilang seperti ditelan bumi.”
Jalan Panaburu, yang menjadi urat nadi bagi tiga hingga empat desa petani, kini tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Warga terpaksa memperbaiki jalan itu dengan tangan sendiri, mengeluarkan 50 hingga 100 ribu rupiah per keluarga dari hasil jerih payah mereka di ladang hanya untuk menyewa alat eksafator agar jalan bisa sedikit layak dilewati. Bahkan pada pemerintahan sebelumnya, Bupati kala itu juga pernah menjanjikan perbaikan jalan ini, namun hingga kini, kondisi jalan tetap membuat mereka menangis dalam hati.
“Kami hanya meminta hak kami sebagai rakyat. Jalan ini adalah hak kami, tapi pemimpin seolah-olah lupa bahwa kami ada,” tambah Hamsya.
Kini, mata dan hati seluruh rakyat Malifut tertuju penuh kepada Ibu Gubernur Serly Tjoanda. Mereka tidak hanya meminta perhatian mereka meminta tindakan nyata. Mereka tahu, sebagai seorang ibu yang memimpin, Ibu Gubernur pasti memahami betul bagaimana rasanya melihat anak-anak dan keluarga tersiksa karena kurangnya perhatian. Namun, harapan mereka mulai memudar karena terlalu banyak janji yang tak pernah terpenuhi.
Masyarakat Malifut tidak lagi mau mendengar janji. Mereka mau melihat aksi. Mereka mau jalan Panaburu diperbaiki secepatnya dan merasa dihargai sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Maluku Utara.
“Ibu Gubernur, kami percaya Anda bisa mendengar suara kami yang kecil tapi tulus. Tapi jika Anda tidak bertindak sekarang, kami akan terus berteriak hingga suara kami sampai ke telinga semua orang. Karena kami tidak akan diam lagi melihat harapan kami terbunuh oleh jalan yang tak layak dan pemimpin yang tak peduli,” tegas Hamsya.

