TERNATE, JhazirahTimur – Udara pantai Kelurahan Jambula hari ini terasa lebih hangat, bukan karena sinar matahari semata, tetapi karena kegembiraan yang meluap dari hati para nelayan yang menunggu kedatangan orang yang mereka tunggu: Gubernur Sherly Tjoanda. Selasa (9/12/25), ia tiba bukan hanya untuk mendengar, tapi langsung memenuhi janji yang membuat mata banyak orang mengembang dengan harapan.
“Kalian minta 6, saya kasih 10.”
Ucapan itu keluar dari mulut Sherly sambil mengangkat tangan, menunjukkan deretan 10 unit armada tangkap berkapasitas 1,5 GT yang siap diserahkan. Tepuk tangan riang pun meledak, campur dengan suara teriakan senang yang bergema di pantai. Beberapa nelayan bahkan tidak bisa menahan air mata—air mata yang bukan karena kesedihan, tapi karena rasa lega dan kebahagiaan yang abadi. Setelah bertahun-tahun berlayar dengan perahu yang usang, kini mereka punya “tempat tinggal baru” di laut yang akan membawa makanan ke meja keluarga.
Didampingi Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Malut, Fauzi Momole, Sherly kemudian berdiri di tengah warga yang ramai, mendengarkan setiap kata dengan penuh perhatian. Ia tidak hanya membawa armada, tapi juga harapan baru: rencana pembangunan breakwater sepanjang 200 meter yang akan melindungi pantai dan perahu mereka dari ombak ganas.
“Saya sudah bertemu dengan Kementerian PUPR dan Irine Yusiana Roba Putri dari DPR RI Malut,” ujarnya dengan nada yakin. “Anggarannya 20 miliar, mudah-mudahan tahun depan bisa segera dibangun. Jadi nanti bapak-bapak tidak perlu khawatir lagi perahu terombang-ambing saat mau berlabuh.
Tak cukup sampai situ, Sherly juga mengumumkan kabar baik lagi: tahun depan, Pemprov akan memberikan bantuan mesin kapal. Untuk perahunya, ia telah berkoordinasi dengan OJK dan para pimpinan bank agar nelayan bisa mendapatkan pinjaman KUR senilai 30 sampai 35 juta dengan syarat yang ringan.
“Semua ini untuk kesejahteraan keluarga bapak-bapak,” katanya sambil menyentuh bahu salah satu nelayan tua. “Agar anak-anak bisa sekolah, istri tidak perlu khawatir makanan, dan kita semua bisa bangkit bersama.”
Di mata para nelayan Jambula, Sherly bukan hanya seorang pejabat. Ia adalah orang yang menjadikan janji sebagai janji—orang yang membuat harapan yang dulunya hanya impian, kini menjadi kenyataan yang bisa diraih dengan tangannya sendiri. Saat armada pertama dihanyutkan ke laut, senyum di wajah mereka adalah hadiah terindah yang tidak ternilai harganya.

