Jhazirahtimur.com – Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara, menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir.
Sinas Kesehatan (Dinkes) Halsel mencatat total 185 kasus HIV sejak 2020 hingga 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Halsel, Asia Hasyim, mengungkapkan bahwa data tersebut saat ditemui wartawan, Selasa (20/1/2025). Ia menegaskan, lonjakan kasus menjadi sinyal penting bagi semua pihak untuk memperkuat upaya pencegahan dan edukasi di masyarakat.
“Pada 2020 dan 2021 masing-masing tercatat 19 kasus. Angka ini meningkat menjadi 32 kasus pada 2022, 28 kasus di 2023, 36 kasus pada 2024, dan melonjak menjadi 51 kasus pada 2025,” sebut Asia.
Menurutnya, peningkatan kasus dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari rendahnya pemahaman masyarakat terkait HIV/AIDS, perilaku berisiko, hingga semakin masifnya kegiatan skrining dan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan tenaga medis.
Asia menegaskan, HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari seperti berjabat tangan atau berpelukan. Penularan umumnya terjadi akibat perilaku berisiko, seperti hubungan seksual tanpa pengaman dengan banyak pasangan, penggunaan jarum suntik tidak steril, serta minimnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta menghindari perilaku berisiko. Pencegahan adalah kunci utama memutus mata rantai penularan HIV,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipatif, pihaknya terus mengintensifkan program sosialisasi dan edukasi HIV/AIDS yang menyasar kelompok usia produktif, komunitas berisiko, hingga lingkungan pendidikan. Kegiatan tersebut meliputi penyuluhan langsung, kampanye kesehatan, serta layanan tes HIV secara sukarela.
“Deteksi dini sangat penting. Dengan mengetahui status kesehatan lebih awal, penderita bisa segera mendapatkan pengobatan dan mencegah penularan kepada orang lain,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Dukungan keluarga dan lingkungan, kata dia, berperan besar dalam keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup penderita.
“ODHA membutuhkan empati dan dukungan, bukan stigma. Dengan pengobatan yang teratur, mereka tetap bisa hidup normal dan produktif,” pungkasnya.
Pihaknya juga berharap sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan dunia pendidikan mampu menekan laju peningkatan kasus HIV sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan.

